Pada suatu titik tertentu, kejenuhan memang selalu datang. Apalagi ketika melakukan sesuatu yang tak jelas sebenarnya apa yang sedang kami cari. Tentu saja alasan pencarian itu adalah ketidakjelasan tentang segalanya. Tiada cara lain sampai saat ini yang kami pikirkan kecuali belajar. Ya! Belajar adalah salah satu cara untuk mengisi kehampaan dalam menemukan clue jawaban. Tapi kemudian keterbatasan kembali menjadi masalah yang tak kunjung ada jawabannya.

Seperti yang dahulu dan mungkin hingga sekarang, aku yakini bahwa setiap manusia memegang perananan penting dalam kehidupannya. Sampai saat ini aku tak percaya ada manusia yang mati sia-sia, tentu saja keyakinan ini sulit untuk dibuktikan, mengingat tenaga yang akan dicurahkan untuk membuktikan itu tidaklah sedikit, ilmu yang dibutuhkan tidak juga setengah-setengah, dan waktu yang dimiliki tidak juga abadi. Tapi justru itu intinya. Waktu memegang peranan penting untuk perkembangan manusia secara keseluruhan. Dimulai dari zaman prasejarah hingga saat ini, manusia telah berkembang dan menjadi puncak rantai makanan di bumi. –bila di pikir-pikir, sesuatu sehebat, seindah, seluar biasa, dan se se lainnya ini serasa mustahil dapat tercipta dengan sendirinya. Terlalu rumit dan pelik bila memikirkan bahwa segala kejadian aneh ini terbentuk, berjalanan, dan mungkin berakhir suatu saat nanti karena suatu kebetulan. Ah, bahkan mungkin saat ini, tiada yang kebetulan sama sekali. Potensi kekuatan tak terbatas yang –mungkin- ada di luar sana sama pasti keberadaannya dengan ruang imajinasi manusia yang juga tak terbatas pula. 

Imajinasi yang menggerakan manusia menjadi seperti sekarang ini. siapa yang bisa membayangkan cara membangun gedung-gedung pencakar langit di kota-kota yang sangat indah dimasa PRA SEJARAH. Bahkan adakah yang membayangkan menggunakan sendok dari perak saat makan pada ribuan tahun yang lalu? Lalu siapa yang membimbing itu semua? Benarkah imajinasi ‘menciptakan’ setiap ide ide itu dari ketiadaan? Kreativitas dapat mengubah apa yang ada menjadi sesuatu yang baru dengan cara menggabungkan atau memisahkannya. Tapi bukan menciptakan dari ketiadaan tentu saja! Alam telah membimbing manusia menuju peradaban majunya dari dulu bahkan hingga saat ini. manusia hidup di alam dan belajar darinya. Bahkan mungkin beberapa di antaranya mulai dengan ‘sombong’ merasa mampu berjalan sendiri padahal merangkak pun masih selalu terpeleset.

Terkadang betapa sedihnya diri kami ketika memikirkan betapa waktu yang kami miliki hanya sedikit. Sedikit sekali untuk dapat berkembang. Sedikit sekali waktu untuk belajar.

Pada saat yang sama, kami menemukan sebuah kalimat indah dari salah satu sumber inspirasi hidup kami saat ini.

“manusia terlalu lama untuk berkembang. Tetapi di sisi lain manusia hanya memiliki sedikit waktu untuk belajar. Mungkin itulah yang membuat manusia menyerah untuk mencari kebebasan dan memiliki keinginan. terlepas dari sudah sempurnanya hidup dengan adanya matahari, udara segar, dan secangkir kopi hangat di pagi hari."

Yos! Indah bukan? Kami tertegun untuk sejenak mencerna kalimat diatas. Sungguh terlalu sederhana, tetapi sedikit memberi cahaya bagi kehidupan kami yang mulai tak jelas arahnya.

Kalimat itu sudah lebih dari cukup untuk kami dapat menjalani hari-hari dengan indah dan penuh makna. Entah dibawa kemana semua itu...

Langkah-langkah kami dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan rumit dan sulit untuk di jawab. Orang-orang sibuk mencari kebenaran. Kebenaran yang selama ini di agung-agungkan sebagai motivasi para kaula muda bahkan hingga tua. Beda pikiran, beda kebenaran. Pikiran terbentuk dari kehidupan yang selama ini di jalaninya. Beda tempat, beda pula lah pola kehidupan. Beda situasi lingkungan, beda pula lah kehidupan. Lingkungan berubah, begitu pula pola kehidupan. Lingkungan berubah karena ada faktor x yang tak terhitung jumlahnya sebagai sebab yang mengakibatkan perubahan tersebut. Oke, cukup sampe faktor x. Intinya, disimpulkan bahwa Faktor x mempengaruhi kebenaran yang mereka percayai. Pertanyaannya, siapa atau apa atau kakuatan apa yang menggerakan si x hingga berlaku demikian? Bukankah berarti siapa apa atau kekuatan apa ini menginginkan terjadinya perbedaan ini. mungkin itulah alasan mengapa tuhan berkata bahwa kebenaran hanya milikNya semata –kalo memang tuhanlah yang menggerakan faktor x ini. entah lah mengapa...

Terkadang kami juga membayangkan betapa indahnya mengamati kehidupan setiap manusia untuk dapat mempelajarinya. Maksud kami, SETIAP MANUSIA yang pernah hidup di dunia!

Iri juga melihat kisah yang mengatakan bahwa terdapat malaikat yang hidup lama dan diberi kesempatan mengamati perjalanan manusia dari dulu hingga sekarang. Sungguh, kami iri pada malaikat itu. Tentu saja iri dalam bentuk kekaguman dan penghormatan. Itu Kesempatan yang langka tapi LUAR BIASA, tentu saja! yang pasti hanya diberikan kepada dia yang pengabdiannya tak terbatas kepada sang Maha Penggerak. Kesempatan untuk belajar sesuatu yang tak pernah terlintas di imajinasi mereka. Tentu saja tak pernah ada, karena memang berasal dari Dia yang mungkin juga pencipta suatu ketiadaan. (hah?). Hanya bisa membayangkan dengan kemampuan imajinasi kami yang rendah, tentang kebingungan kami atas apa yang dipikirkan iblis ketika itu hingga mampu untuk menolak keinginan Nya. Tentu saja imajinasi kami ini dilandasi ketidak tahuan kami atas apa yang terjadi saat itu, sehingga SANGAT terlepas dari anggapan-anggapan lain yang tidak berhubungan, baik itu menjelekan, mengagungkan, atau apapun yang mungkin terlintas dari pikiran kami. Bahkan mempertanyakan saja kami tak berhak. Kedua belah pihak tentu, walau bila di pikir pikir kembali, tak mungkin keduanya dipisahkan. Dia membantah perintah Nya, tapi di saat yang sama dia mengagungkan Nya pula. Bagaimana mungkin imajinasi kami mampu membayangkannya. Mungkin bisa, tetapi hanya pada level tertentu saja. Kesempurnaan pengetahuan kondisi jiwa/hati yang dimiliki mahluk yang Dia ciptakan tentu saja hanya Dia yang tahu.

Bila memang kuburan adalah tempat dimana manusia hanya mampu mengamati dari jauh tanpa dapat ikut campur didalamnya tentang perjalanan manusia di dunia, tentu saja itu menjadi tempat tujuan yang indah dan luar biasa bagi kami.

Tapi tentu saja pikiran itu mengingatkan kami akan sesuatu.
Kamilah tokoh utamanya di cerita perjalanan ini. tentu saja itu tidak masuk akal bila kami keluar dari cerita dan melihat cerita yang berjalanan dari luar kaca. Lalu siapa yang memainkan? Bila jadi kami, ketika kami mati,  mungkin penyesalan kami adalah mengapa kami tak dapat ikut serta dalam perjalanan itu. Memperindah perjalanannya. Memperindah perjuangannya. Memperindah kisahnya. Menjadi tokoh dalam menjalankan tujuan umat manusia sejak diciptakan.

Yah, kami bukan malaikat yang hanya menonton dan mempelajari saja. Kami ikut serta didalam kisahnya, dan juga belajar didalamnya secara langsung!

Kehormatan apa lagi yang melebihi kehormatan untuk ikut serta dalam mengarungi perjalanan hidup di dunia!

Toh Dia pernah berkata bahwa segala ini diciptakan bukan untuk main-main. Dia tidak pernah berniat menciptakan semua ini hanya untuk candaanNya saja.

Bukankah kami seharusnya berterimakasih, bersyukur, dan bertambah pula penghambaan kami. Tidak kurang apakah kasih sayangNya kepada kami? Apalagi diberi penghormatan seperti itu.

Itulah mengapa sejarah selalu menjadi sesuatu yang mengasikkan. Terlepas betapa mudahnya sejarah dipalsukan, dihilangkan, diganti sana-sini sesuai keinginan sang penguasa –manusia- saat itu. Ketika menemukan keasliannya, hal itu menjadi sangat berwarna. Hitam, putih, merah, biru, hijau, nila dan warna-warna indah lainnya.

Lagi-lagi, terlepas bagaimana kami menjalankan hidup ini. bila di rekam dalam sebuah dvd berkapasitas raksasa yang bila di putar akan menampilkan perjalanan hidup tiap manusia, sepertinya kami akan malu bila ‘memerankan’nya dengan setengah-setengah ketika film tersebut menceritakan bagian kehidupan kami, atau mungkin kami terlihat tidak berniat sama sekali. Menjadi “bagian akan sesuatu” dalam perjalanan kehidupan ini akan menjadi tujuan yang sama sekali tak buruk. Setidaknya ketika di tonton, kita akan tersenyum bahagia, bangga karena telah memberikan film yang bagus kepada seluruh mahluk jagat raya atau setidaknya kepada sang Pencipta. Dan kemudian sang Pencipta memberikan penghargaannya kepada siapa yang memerankannya dengan baik, mungkin semacam anugrah perfilman.

Oh iya, hal di atas mengingatkan kami akan sesuatu analogi. Analogi atau perumpamaan ini kami dapatkan dalam suatu buku. Buku yang menarik, tersembunyi di antara buku-buku lainnya yang tak terlalu laku.

Sang pengarang menganalogikan kehidupan ini sebagai sebuah game yang dimainkan dalam suatu konsol semacam PlayStastion. Tentu saja manusia sebagai tokoh dari game tersebut. Masuk akal bila kita sebagai tokoh yang ada di dalam game tidak mengetahui apapun yang terjadi dengan diri kita. Kita “YANG ASLI” sedang bermain di luar sana. Di alam lain. Memainkan atau mengontrol kita sendiri yang sedang ada di dalam game. Bila dianalogikan dengan dimensi yang nyata, game adalah dimensi 2 (panjang lebar) di layar televisi dengan tokoh kita di dalamnya, dan kita “YANG ASLI” sedang memainkan game nya di dalam dunia 3 dimensi (panjang lebar tinggi) sedang menggerak-gerakan stick playstation untuk mengontrol diri kita di dalam game.

Mungkin tidak tepat bila kami menyebutkan diri kami yang asli sedang mengontrol kami di dalam game. Justru kalimat yang lebih tepat adalah diri kami yang asli sedang BERUSAHA untuk mengontrol kami di dalam game yang nyatanya kami didalam game tersebut bisa BERKEHENDAK SEMAUNYA.

Nah loh?

Bagaimana caranya memainkan sebuah game yang tokohnya dapat berkehendak semaunya. Tentu saja sang pencipta game memberikan tujuan pada game itu. Sang Pencipta game mungkin saja berkata, hidup kalian di dunia 3 dimensi ini kedepannya akan ditentukan dari keputusan apa yang tokoh kalian ambil dalam dunia 2 dimensi –tokoh yang kalian mainkan- itu. Hal ini membuat game manapun akan dijalankan sangat serius oleh pemainnya, bukan? 

Yah, disadari atau tidak, mungkin iya mungkin tidak, baik itu sang pencipta game ataupun diri kami yang asli di luar sana sudah banyak memberikan petunjuk. Banyak petunjuk yang di berikan.

Lalu kemudian, analogi dimensi itu harus diimajinasikan kembali. Naikan 2 dimensi menjadi 3 dimensi, 3 dimensi menjadi dimensi-dimensi di atasnya. Dan jadilah diri kami yang sekarang ini, sedang menjadi tokoh dalam sebuah game kehidupan yang besar. Tidak paham apa yang terjadi ketika dilahirkan, tiba-tiba harus menjalankan sebuah game ini- atau bahkan tidak paham untuk apa di ciptakan –di mainkan dalam sebuah game-. 

Okeh, kami masih tak paham bagaimana cara bertemu dengan diri kami yang asli di dimensi yang lebih tinggi. Yah satu-satu caranya dengan mencabut nyawa kami (mematikan konsolnya. -_- ) satu-satunya cara adalah dengan membayangkan dirikami sebagai tokoh, menjadi dirikami sebagai kami yang asli atau bertemu dengan diri kami yang asli, sebatas kemampuan imajinasi kami di dunia ini tentu. Bila kami bertemu dengan diri kami yang asli, kami yang asli tentu saja akan berkata, “mainkan lah game ini dengan baik, bantulah pemain-pemain lain mencapai tujuannya, meningkatkan derajatnya, dan jadilah diri kami yang asli menjadi peserta terbaik. Akhiri game ini dengan sesuatu yang bisa kami banggakan, bukan karena mati lampu (loh?). cari petunjuk-petunjuk yang bisa membawa kami ke pencipta game ini. kami yang asli tak bisa melangkah kecuali tokoh kamu inilah yang melangkah dan menemukan jawabannya didalam game. “

Yah, analogi yang hebat! Hahaha,,,

Bisa di bilang pengetahuan kami yang dimulai dari nol didalam game ini adalah cara Dia sang Pencipta Game dan Penyeleksi, memilih mana peserta terbaik sebagai hamba yang terpilih.

Setidaknya sebagai tokoh dalam game, analogi di atas bisa sedikit memberi kami secerah harapan untuk keluar dari kesia-siaan dalam kehidupan.

Okeh kawan kami cukupkan dulu sampai disini, sepertinya sekarang sudah  terlalu merembet ke arah cerita fiksi. Hahaha...

bye...
                                                                                         


  

0 komentar:

Posting Komentar