mencoba untuk lebih menghargai arti cinta tidak pernah salah. perasaan ini murni semurni wujudnya. disisi lain, wujud nya itu terbentuk dalam berbagai rupa. tiada batasan. dan tak berujung. belajar arti cinta itu juga berarti belajar memahami kami sebagai manusia. di bumi ini, mungkin hanya manusia sebagai mahluk biologis yang mampu mendefinisikan cinta. dengan berbagai cara, sudut pandang, serta warna yang berbeda-beda. Sang induk hewan dengan sifat alturistik nya kepada sesama mahluk, terkhusus pada anaknya, mungkin tak menyadari bahwa itu didefinisikan sebagai tindakan dan perilaku cinta. 

Saya mendengar sebuah kisah, dari seorang penyelam. kala itu, satu tim sedang menyelam di permukaan laut, bersama-sama bermain sambil mengamati paus besar di dekatnya. paus itu terlihat sangat menikmati berenang bersama dengan para penyelam. keceriaan si paus terlihat dari tingkahnya dalam berinteraksi dengan para penyelam. bahkan para penyelam pun dengan santai, dapat mengusap-ngusap kepala sang paus, dan berenang bersamanya. tidak ada sama sekali gelagat ketakutan, atau bahkan ketidak sukaan dari perilaku sang paus. 

hingga tiba-tiba, perilaku sang paus itu berubah drastis. sang paus secara mendadak tampak terus mendorong dan terus mendesak salah satu penyelam dihadapan nya dengan agak memaksa. pada saat itu, penyelam yang  di dorong mulai merasa ada yang aneh dari tingkah sang paus. secara alamiah, sang penyelam itu mulai merasakan kekhawatiran didalam hatinya, kegelisahan mulai mengalir dengan cepat di setiap nadi tubuhnya. apakah aku telah menyakitinya tanpa ku sadari? apakah aku telah membuatnya marah? pikir sang penyelam. bahkan ketika sang penyelam berusaha berenang ke samping, menghindari si paus, si paus tetap mengikuti penyelam, menghalangi penyelam tersebut dan mendorong kembali ke arah yang sama seperti sebelumnya
sang penyelam mulai panik dan mengeluarkan kepalanya ke permukaan, meminta tolong kepada para penyelam lain yang sedang ada di kapal tak jauh dari posisinya. si paus terus menerus mendorongnya dengan ujung kepala paus itu sendiri. bisa dibayangkan ketika kita di dorong seekor ikan paus besar, ibarat seperti didorong-dorong oleh bulldozer. tidak mungkin dalam situasi tersebut, kita tidak merasa khawatir, dan bahkan perasaan panik sudah dipastikan menghapiri.

dalam upayanya meminta tolong, terdengar sayup sayup teriakan kawannya di kapal. dalam keadaan panik, didorong-dorong paus, sang penyelam kesulitan mendengar apa yang diteriakan kawan kawannya. sampai pada titik dimana sang penyelam sempat mengeluarkan kepalanya ke permukaan untuk mendengar apa yang diteriakan kawan kawannya di kapal, mulai lah jelas apa yang berusaha disampaikan oleh kawan-kawannya tersebut, 

"HIU!!!! HIU DI BELAKANG PAUS!!!"

saat itulah sang penyelam sadar, bahwa si paus berusaha menjauhkan sang penyelam dari hiu!

 

tetapi bahkan bagi manusia dengan kemampuannya, perjalanan dalam mendefinisikan cinta pada suatu mahluk tak pernah selesai. walau dapat dipastikan bahwa cinta terbentuk dari setiap mahluk di muka bumi. manusia memiliki sifat kebinatangan? iya, tetapi sebagian besar sudut padang itu saya pikir tidak lah dalam artian konotasi yang negatif. 

perjalanan ini akan membawa kita kepada penjelasan, mengapa setiap dari mahluk dapat peduli antara satu dengan lainnya. satu hal yang pasti, seperti layaknya kisah nyata yang saya sampaikan di atas, bahwa tindakan kepedulian muncul jauh dari dalam sanubari, insting, atau perasaan. ingat, paus bukan lah mahluk yang berakal layaknya manusia. 


ya, anda tak butuh logika berfikir untuk peduli baik kepada sesama manusia, hewan, tumbuhan, mahluk lainnya, bahkan lingkungan. dengarkan saja suara hati anda, lepaskan suara dunia dengan segala tipu dayanya. perasaan anda yang seperti ini seharusnya akan membawa anda menyatu dengan alam. bukan jatuh kepada kegelapan. seperti yang sering kali saudara-saudara kita alami diluar sana.... 



0 komentar:

Posting Komentar