bukankah indah memahami lika liku hidup mereka..
bukankah indah melihat kobaran api yang membakar mereka..
bukankah indah menikmati sorotan tajam matanya sang pengelana...
permata hanyalah batu belaka...
dia tak dapat dimakan apalagi lidah merasa...
dia tak nikmat bila hanya tersentuh indra peraba...
karena permukaannya tiada beda...
tapi bukankah dia tetap dicintai...
tapi bukankah dia tetap dicari...
tapi bukankah dia tetap dapat dinikmati...
mata adalah jendela jiwa...
mata adalah indra yang dapat menikmatinya..
keindahannya dapat menentramkan jiwa...
tetapi tak disangka dapat menjerumuskan raga...
ya, aku hanya penikmat dia yang membakar dirinya...
api semangat yang berkobar-kobar dalam meraih cita-cita...
apakah aku tahu apa yang akan dan harus terjadi?
tidak, tapi instingku tahu...
insting yang mengikuti kemana arah jiwa melangkah...
jiwa yang mencintai kampung halamannya...
kampung halaman bagi segala hal yang menyempurna..
menyempurna pada Dia yang tak terbatas kesempurnaanNya...
aku senang mengingatkan mereka untuk yang terakhir kalinya...
tapi ingat, aku tidak berusaha menjadi Dia....
tetapi pelajaran mereka juga pelajaran bagi ku...
dengan itu, aku paham bagaimana mengelola permata...
dengan itu, aku tahu bagaimana cara mengasahnya...
dengan itu, aku mengerti bagaimana mengajari jendela jiwa...
wahai kawan, maafkan aku...
tapi aku tak akan pernah menghalangi Ambisimu...
perjuangan mu akan jadi pembelajaranku...
dan kejatuhan mu akan menjadi pengalaman kita semua...
terlihat kejam tapi memang itu satu-satunya cara..
untuk membuktikan kebenaran insting ini...
dan hal ini akan menjadi sesuatu yang paling luar biasa bagi hidup ku...
sang malaikat paham apa arti keputusanNya...
ketika Dia membuka tirai Kebenaran milikNya dihadapan mereka...
sungguh betapa lemahnya kita para ciptaannya..
dibandingkan ketinggian Kasih Sayang dan Bijaksana yang dimilikiNya...
berjuanglah!
Diposting oleh
hendra
0 komentar:
Posting Komentar