Pertama, ada dua ide yang ingin saya tumpahkan dalam satu waktu kali ini. tulisan sebelumnya, dan tulisan ini. Saya ingin sedikit mengenang masa kecil saya hingga akhir - akhir ini. Sedikit cerita, tetapi saya akan padati dengan makna dan pembelajaran yang saya dapatkan.
😊😊😊
Mari kita mulai dengan sebuah pulau yang indah di tengah nusantara, yang sayangnya di guncang gempa besar tahun lalu (semoga kedamaian dan ketabahan beserta mereka yang selamat, dan semoga surga diberkahkan kepada mereka yang kehilangan nyawa). ya, PULAU LOMBOK.
![]() |
| nih map nya. tuh kota mataram, di sisi barat samping pantai pulau lombok. panas ajib, tapi seger bawa angin pantai gitu deh... |
Benar, saya lahir di bandung, tetapi kemudian karena alasan tertentu, saya dan keluarga pindah ke kota Mataram, ibu kota pulau Lombok. kepindahan saya bertepatan dengan selesainya saya menempuh TK. Setiba di Mataram, pendidikan Sekolah Dasar saya langsung ditentukan dan kehidupan baru pun dimulai.
Cukup lama saya tinggal disana, bisa dibilang masa kecil saya, saya habiskan di Mataram (ya, kurang lebih 8 tahun) hingga saya harus kembali lagi ke Bandung ketika saya masuk kelas tiga SMP.
Cukup lama saya tinggal disana, bisa dibilang masa kecil saya, saya habiskan di Mataram (ya, kurang lebih 8 tahun) hingga saya harus kembali lagi ke Bandung ketika saya masuk kelas tiga SMP.
![]() |
| pantai kerandangan, dulu rumah saya pernah di belakang pantai ini. Jangan salah coy, gua anak pantai dulu... hahaha... |
sejujurnya di pikir pikir, perubahan ini memberikan dampak yang teramat signifikan pada pola pikir saya sejak kecil. khususnya tentang keberagaman suku, budaya, ras, dan agama.
mengapa?
saya berikan contoh.
Di kelas saya ketika SD, sebagian muridnya adalah beragama Hindu yang mayoritas asli penduduk Bali (karena memang Bali dan Lombok hanya sedekat 4 jam perjalanan menggunakan kapal Ferry, tidak jauh...), sebagian lagi beragama islam, dan 2-3 orang beragama kristen. Ya, sejak kecil saya sudah terpapar oleh keberagaman. Sampai dititik dimana saya berpikir bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan indonesia. Itu, KETIKA SAYA MASIH KECIL. Pada saat itu saya hanya belum tahu, konsep rasisme karena begitu biasanya kami dengan keberagaman di sini.
Di kelas saya ketika SD, sebagian muridnya adalah beragama Hindu yang mayoritas asli penduduk Bali (karena memang Bali dan Lombok hanya sedekat 4 jam perjalanan menggunakan kapal Ferry, tidak jauh...), sebagian lagi beragama islam, dan 2-3 orang beragama kristen. Ya, sejak kecil saya sudah terpapar oleh keberagaman. Sampai dititik dimana saya berpikir bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan indonesia. Itu, KETIKA SAYA MASIH KECIL. Pada saat itu saya hanya belum tahu, konsep rasisme karena begitu biasanya kami dengan keberagaman di sini.
Ketika saya kelas 3 SD, saya diperkenalkan dengan seseorang anak laki laki beragama hindu, yang kemudian menjadi sahabat saya yang paling dekat hingga akhir saya menamatkan SD. Begitu lekatnya kami hingga terkenal julukan diantara kawan-kawan kami bahwa Tidak Akan Ada Saya Tanpa Keberadaan Dia, begitu juga sebaliknya. lucu tetapi lebih aneh lagi memang, ketika seringkali kami tidak masuk sekolah (baik karena sakit atau acara keluarga) di waktu yang selalu bersamaan, tentu tanpa terencana (ingat, dulu hp masih jarang. cuman ortu gua yang megang hp, itupun yang layarnya masih kuning merek siemen sama nokia.. hahahaha...).
pada saat itu, saya pun mulai diperkenalkan dengan agama saya sendiri. sangat menyedihkan sebenarnya, ketika terpikirkan di masa dewasa ini, bahwa saya mengenal makna rasisme dan superioritas - yang berasal dari orang orang toxic yang hidup diantara keberagaman - ketika saya memulai mengenal agama saya.
Entah siapa yang memberikan ide ini pada saat itu (ketika SD), sebuah kalimat yang mengguncang psikologi saya. Sebuah kalimat toxic yang bila hatimu tak cukup murni dan bersih, akan menggiring pada sikap superioritas atau arogansi. walaupun sebenarnya, dengan ilmu yang tepat (yang sayangnya baru saya dapatkan ketika SMA), ide ini dengan mudahnya akan terbantahkan. Tapi ya bagaimana lagi kawan, saya masih kecil saat itu. dan lagipula, SMA saya sangatlah unik (saya merasa beruntung untuk satu ini). Walaupun ketika itu, pada akhirnya, saya menyerahkan diri saya pada keputusan hati saya yang saya rasa (dilihat dari mata saya ketika sudah dewasa ini), hati tersebut masihlah sangat murni dan indah. hahaha...
Begini bunyi kalimatnya,
"SEMUA MANUSIA SELAIN MEREKA YANG BERAGAMA ISLAM, AKAN MASUK NERAKA DAN TIDAK AKAN PERNAH BISA MASUK SURGA"
Mendengar kalimat itu sempat terlintas perasaan arogansi di dalam hati saya. Hampir hampir saya jatuh kedalam lubang jurang yang gelap, sepi, dan mengerikan. HINGGA SEPERSEKIAN DETIK KEMUDIAN SAYA MENGINGAT SAHABAT SAYA YANG BERAGAMA HINDU TERSEBUT...
HANCURLAH HATI SAYA....
Hancurlah hati saya sehancur-hancurnya...
Hancurlah hati saya sehancur-hancurnya...
Beberapa hari setelah itu saya hanya termenung...
Ayolah kawan, saya masih kecil saat itu...
Ingin rasanya air mata saya mengalir setiap kali melihat wajah sahabat saya...
Setiap kali saya melihat kawan kawan saya yang begitu baiknya pada saya (YANG KEBETULAN BERBEDA AGAMA)....
Pada saat itu, sempat terlintas di pikiran saya yang masih polos itu, pemikiran untuk memaksa sahabat saya masuk ISLAM...
Tapi kemudian terlintas lagi hal lain di pikiran saya,
Bagaimana dengan kawan-kawan saya yang lain!!!
Bagaimana dengan kawan dekat saya yang tinggal sekomplek dengan rumah saya!!!!
Bagaimana dengan tetangga saya yang beragama hindu dan kristen, yang setiap hari raya idul adha dan idul fitri datang ke rumah saya MEMBAWA BEGITU BANYAK MAKANAN, JAJANAN, dan MINUMAN untuk sama-sama merayakan hari istimewa tersebut!!!!!
Semakin hancurlah hati saya....
kawan, hancur nya hati saya bukan semata karena banyaknya orang yang berbeda paham agama di sekitar saya, MELAINKAN betapa kalimat diatas begitu kejamnya hingga dititik dimana semua kebaikan yang pernah saya rasakan dari tangan mereka TAK DINILAI ATAU BAHKAN DIPANDANG OLEH DIA YANG MAHA KUASA (berdasarkan kalimat itu).
Pada saat itu, mulai muncul bibit pemberontakan dalam keyakinan saya terhadap agama yang saya anut... Saya berpikir, bagaimana mungkin Dia yang Maha Pengasih dan Maha Adil teramat begitu TIDAK ADIL terhadap sebagian golongan... bukankah kalimat diatas justru MEMBATASI KEMAHA-ADILAN dan KEMAHA PENGASIH nya Tuhan...
Hati saya masih dengan hebatnya menggaungkan keindahan keberagaman dan selalu terasa pilu bila terbayang ide mengerikan itu..
Perlahan-lahan, ide toxic di atas mulai saya lupakan, dan saya masih berteman tanpa memandang agama. Bahkan 3 dari 6 orang sahabat saya ketika saya duduk di bangku SMP kelas satu dan kelas dua adalah orang-orang yang beragama hindu, satu diantaranya seorang wanita yang kini menjadi polwan di bali, 3 orang lain beragama islam. Walaupun memang, ide toxic yang pernah menghantui saya terus mengganggu pikiran saya selama bertahun-tahun...
![]() |
| SMPN 15 MATARAM. hmmm.. ga ada yang berubah sih kayaknya, kecuali warna... wait... AULA DALAM RUANGNYA MANA!!!! |
Hingga akhirnya terjawablah pertanyaan pertanyaan itu ketika saya SMA, dengan jawaban yang teramat memuaskan, melegakan hati kecil nan murni saya (pada saat itu)...
(untuk jawabannya, tidak akan aku bahas disini. silahkan kalian cari kebenaran kalian dengan baik. dan percayalah, hasil dari pencarian kalian akan sangat merefleksikan kualitas kalian dalam mencari kebenaran. Perlu diingat sebagai panduan jalan, bahwa tidak ada kebenaran sejati di dunia ini. jawaban sejati akan selalu beriringan dengan pertanyaan baru, tanpa henti dan tanpa akhir. bila kau merasa bahwa keyakinanmu sudah benar, MAKA PADA SAAT ITULAH KAU GAGAL DALAM MENCARI KEBENARAN SEJATI)
Perjalanan hidup saya berkenaan dengan keragaman tidak berhenti di situ. Di SMA, saya memahami bahwa keragaman juga terjadi di tubuh agama yang saya anut. Kami diajarkan bagaimana berjalan ditengah keberagaman ini. Sebuah SMA yang saya banggakan... Yah, selain itu, di sinilah saya mendalami suku saya sendiri, suku Sunda dengan budaya dan keseniannya secara lebih mendalam...
Ketika saya berkuliah di Tangerang, sekali lagi saya diperkenalkan dengan keberagaman yang lebih luas. Di tempat itu, Mayoritas beragama kristen dan budha dengan ras yang berbeda-beda, dari sabang sampai merauke (termasuk manado dan tentu saja papua).
Ketika di Malang, lagi lagi saya diperkenalkan untuk mendalami salah satu suku mayoritas di indonesia, Suku Jawa yang memang belum pernah saya pahami lebih dalam semasa saya masih kecil.
(oh iya lupa, suku Lombok dikenal dengan nama suku Sasak. ketika SD, saya sudah diajarkan bagaimana menulis aksara Sasak dan sejarah suku tersebut di mata pelajaran bahasa dan budaya sasak, yang merupakan salah satu pelajaran yang paling saya sukai, karena aktifitasnya penuh dengan kesenian daerah sasak yang diperkenalkan, termasuk tari, musik gemalan khas sasak, dan aksaranya....)
(oh iya lupa, suku Lombok dikenal dengan nama suku Sasak. ketika SD, saya sudah diajarkan bagaimana menulis aksara Sasak dan sejarah suku tersebut di mata pelajaran bahasa dan budaya sasak, yang merupakan salah satu pelajaran yang paling saya sukai, karena aktifitasnya penuh dengan kesenian daerah sasak yang diperkenalkan, termasuk tari, musik gemalan khas sasak, dan aksaranya....)
![]() |
| kurang lebih gini deh pas lagi hari jumat, waktu SD dulu, ada aturan yang mewajibkan muridnya menggunakan pakaian sembahyang sesuai agamanya masing-masing. (entah sekarang) (gambar hanya ilustrasi) |
![]() |
| andaikan selalu seindah ini... (gambar hanya ilustrasi) |
Tidak pernah saya merasa sebersyukur ini kepada Allah yang maha Pengasih, Penyayang, Pemberi Ampunan, dan Bijaksana, yang memberikan saya kesempatan untuk 'melihat' seluas-luasnya keberagaman di Nusantara sejak kecil....
terimakasih pula sebesar besarnya saya ucapkan kepada Nabi tercinta Muhammad SAW, NABI SELURUH UMAT MANUSIA!!! yang telah menyampaikan kabar terindah kepada seluruh umat manusia...
Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [QS. Saba’ (34): 28]
Sebagai penutup, mari kita dengarkan bersama salah satu lagu nasional dibawah ini. hayoo, masih ingat tidak liriknya??? hehehehe..... sambil lihat videonya makin maknyus loh..
so,
selamat menikmati...
Salam sejahtera untuk semuanya...
om swastyastu...
sotthi hotu...
Salom...
Wei de dong Tian...
Wassalam mualaikum....
om swastyastu...
sotthi hotu...
Salom...
Wei de dong Tian...
Wassalam mualaikum....









0 komentar:
Posting Komentar